Kamis, 21 Juni 2012
Telek Desa Jumpai: Sebelum awal mula dari Tari Telek Anak-Anak dijela...
Telek Desa Jumpai: Sebelum awal mula dari Tari Telek Anak-Anak dijela...: Sebelum awal mula dari Tari Telek Anak-Anak dijelaskan, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai Desa Jumpai itu sendiri. Menurut infor...
Jumat, 15 Juni 2012
Sebelum awal mula dari Tari Telek
Anak-Anak dijelaskan, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai Desa
Jumpai itu sendiri. Menurut informasi yang diberikan oleh Bapak I Wayan
Marpa, selaku Bendesa Adat Desa Jumpai Klungkung, menjelaskan tentang sejarah Desa Jumpai secara singkat, sebagai berikut.
Pada zaman kerajaan dahulu, terdapatlah
salah satu kerajaan bernama kerajaan Majapahit. Kerajaan tersebut
mempunyai seorang patih, ia bernama maha patih Gajah Mada. Suatu hari,
Patih Gajah Mada meminta Mpu Kresna Kepakisan untuk datang ke Bali untuk
menjadi Raja di Bali. Alasannya, karena Mpu Kresna Kepakisan memiliki
hubungan yang baik dan memiliki kesaktian yang sama dengan dirinya
(Patih Gajah Mada). Mpu Kresna Kepakisan mempunyai empat (4) anak,
yaitu:
- Dalem Dirum menjadi Raja Blangbangan
- Delem Made Pasuruhan menjadi Raja Pasuruhan
- Dalem Watu Muter menjadi Raja Sumbawa
- Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi Raja Majalangu
Salah satu anak beliau, yaitu Ida Dalem
Ketut Kresna Kepakisan yang menjadi Raja Majalangu menikah dengan Ni
Gayatri. Kemudian mempunyai anak yang bernama I Pasek Bon Dalem
Samanjaya. Ida Dalem Ketut Kresna Kepakisan oleh Patih Gajah Mada
didaulat menjadi Raja Bali dengan para pengikut Arya Makabehan
juga disertai dengan anak beliau I Pasek Bon Dalem Samanjaya yang
menjadi juragan. Pertama kali beliau datang ke Bali turun di pasisir
Desa Langkung (Lebih). Disana beliau pergi ke Utara, tiba di Samprangan
dan menjadi Raja Samprangan. I Pasek Bon Dalem Samanjaya adalah bermata
pencaharian sebagai nelayan. Ia lalu meminta kepada Raja Ida Dalem Ketut
Kresna Kepakisan (ayahnya) untuk mencari tempat di dekat pantai, karena
tempat ia tinggal jauh dari samudra. Mulai sejak itu, anak dari Ida
Dalem Ketut Kresna Kepakisan, yaitu I Pasek Bon Dalem diberi gelar I
Pasek Bendega Dalem Samanjaya. Beliau mencari tempat di dekat pasisir
pantai menemukan tempat yang bernama Cedokan Boga. Di sana para leluhur pertama tinggal. Akan tetapi, sekian lama tinggal di Cedokan Boga, I Pasek Bendega Dalem Samanjaya mencari tempat lagi bergeser ke Timur menemukan tempat yang bernama Njung Pahit (Jumpai). Kemudian bergeser ke sebelah Timur sesuai dengan posisi Desa Jumpai sekarang yang terdiri dari lima banjar
(Dusun), antara lain: (1) Banjar Jumpai Gunung, (2) Banjar Jumpai
Kanginan, (3) Banjar Jumpai Tengah, (4) Banjar Jumpai Kawanan, dan (5)
Banjar Jumpai Kekeran. Dikarenakan berbagai musibah, pada suatu masa itu
di Desa Jumpai mengalami wabah penyakit hingga menyebabkan rakyat yang
berjumlah 800 orang menjadi 300 orang. Karena banyak yang meninggal,
beberapa dari warga Desa Jumpai meninggalkan desa dan beralih ke Badung,
Cemagi, Seseh, dan Semawang. Banjar pun menciut dari lima banjar menjadi dua banjar, sampai sekarang bernama Desa Jumpai.
Demikian ulasan singkat tentang sejarah terjadinya Desa Jumpai, Klungkung.
Desa Jumpai, Klungkung merupakan salah
satu desa dari sekian banyak desa yang ada di wilayah Kabupaten
Klungkung, dengan batas-batas sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Gelgel
Sebelah Barat : Subak Pegatepan
Sebelah Timur : Tukad Unda
Sebelah Selatan : Segara/ Laut
Potensi Desa Jumpai
Luas wilayah Desa Jumpai kira-kira 213.306 Ha/Km2
dengan keadaan tanah yang sangat subur yang terdiri dari tanah
perumahaan, persawahan, perkebunan sebagian lainnya pantai. Iklim Desa
Jumpai cukup sedang dan keadaan tanah cukup subur.
Kehidupan penduduk Desa Jumpai pada
umumnya ditopang oleh mata pencaharian secara mayoritas dalam bidang
pertanian, selebihnya adalah jasa pertukangan, pegawai negeri, dan
karyawan swasta serta wiraswasta.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
memacu masyarakat di Desa Jumpai untuk meningkatkan pengetahuan baik
lewat jalur formal maupun non formal. Melalui pendidikan formal di Desa
Jumpai telah berdiri sebuah Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK), sebuah
Sekolah Dasar (SD), dan sebuah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).
Lewat pendidikan non formal atau
pendidikan luar sekolah dimaksudkan untuk mengajari siswa-siswa
keterampilan lain di luar jam sekolah. Maka dari itu telah berdiri
sebuah pesraman yang menampung anak-anak yang ingin mengetahui hal-hal
baru yang berkaitan dengan segala macam pelajaran mulai dari pendidikan
ilmu pengetahuan, bahasa, etika, dan sopan santun, keterampilan putra
dan putri dan agama.
Dalam bidang kesenian, di Desa Jumpai
juga memiliki potensi dalam bidang tersebut. Kesenian merupakan suatu
khas tradisi suatu desa dimana setiap tahunnya mengalami perkembangan
sesuai dengan tuntutan jamannya dengan tanpa menghilangkan unsur-unsur
keasliannya. Kesenian juga merupakan media masa baik itu dipergunakan
untuk keagamaan maupun dalam kegiatan pemerintah. Oleh karena itu
pemerintah harus mendapatkan perhatian. Pembinaan secara rutin itu
harus mendapatkan perhatian pembinaan itu datang dari pihak pemerintah
maupun masyarakat itu sendiri.
Kelembagaan Desa Jumpai sudah berjalan
dengan baik, hal ini dapat ditinjau dengan adanya koordinasi yang baik
diantara lembaga-lembaga yang ada, baik lembaga formal maupun non
formal. Di Desa Jumpai banyak terdapat Organisasi Kemasyarakatan yang
keseluruhannya adalah untuk menunjang pembangunan secara umum sesuai
dengan bentuk organisasi tersebut. Dalam hal ini organisasi yang
terdapat di Desa Jumpai meliputi: kelompok kesenian Gong Kebyar 2 sekaha
untuk 1 desa dan sanggar tari 1 buah. Selain di bidang kesenian, Desa
Jumpai juga perpotensi di bidang olahraga. Banjar Kanginan pernah
berhasil mendapatkan juara I turnamen voly untuk tingkat sekabupaten dan
Banjar Kawan berhasil mendapatkan juara I dibidang olahraga bulutangkis
untuk tingkat sekabupaten.
Dari uraian diatas mengenai sejarah Desa Jumpai, maka dapat disimpulkan Desa Jumpai sekarang menjadi 2 banjar, yaitu Banjar Kawan dan Banjar Kangin. Walaupun kedua banjar tersebut berdampingan, namun saat mementaskan Tari Telek Anak-Anak tersebut mereka memiliki penari, tapel Telek, dan pemangku sendiri-sendiri. Hanya saja di Desa Jumpai memiliki satu sesuhunan, yaitu Ida Bhatara Jero Gede (berbentuk Barong) dan kedua banjar tersebut sebagai pengemponnya. Ida Bhatara Jero Gede, Ida Bhatara Lingsir (Rangda), tapel Telek, Jauk, dan Penamprat mempunyai tempat khusus jika tidak mesolah, yaitu disineb di Pura Dalem Penyimpenan.
Tari Telek yang merupakan kesenian
tradisional, asal usulnya tidak diketahui secara pasti, hal ini
disebabkan oleh kurangnya data yang mengungkapkan asal mula tarian ini.
Di dalam mengungkapkan awal mula timbulnya Tari Telek Anak-Anak di Desa
Jumpai, akan berpedoman kepada informasi yang diberikan oleh beberapa
nara sumber yang berasal dari daerah lingkungan objek penelitian ini. Di
samping itu, informasi yang didapat di lapangan juga akan dibandingkan
dengan sumber-sumber literatur yang ada kaitannya dengan Tari Telek di
Bali. Meskipun demikian, Tari Telek di Desa Jumpai diperkirakan mulai
berkembang sekitar tahun 1935 sampai sekarang. Tarian ini dijadikan
pelengkap upacara keagamaan di pura-pura di lingkungan
masyarakat Jumpai, dan juga Tari Telek ini mempunyai hubungan erat
dengan Barong Ket dalam pementasannya yang juga merupakan sesuhunan Desa Jumpai tersebut. maaf kalo ada salah
Langganan:
Postingan (Atom)
